Informations about all

Pages

Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Dewi Sinta (2)

Figur Wayang Dewi Sinta (2)

Dewi Sinta dalam bentuk wayangkulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dewi Sinta (2)

Melalui ujung mata bajak, Prabu Janaka menemukan seorang bayi, yang kemudian diangkat anak dan diberi nama Sinta. Setelah dewasa Sinta dipinang oleh Rama, putra Prabu Dasarata raja Ayodya, melalui sebuah Sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka. Walaupun Sinta adalah anak raja Alengka yang diangkat anak oleh raja Mantili dan kemudian menjadi menantu raja Ayodya, hidup Sinta tidak pernah lepas dari kesengsaraan.

Ketika bayi ia di buang di sungai, kemudian setelah dewasa ia hidup dalam pembuangan di hutan Dandaka mendampingi Rama suaminya dan Laskmana adik Rama. Di hutan Dandaka ia diculik oleh Dasamuka yang adalah ayah Sinta yang sesungguhnya. Namun dalam hal ini Sinta tidak tahu bahwa yang menculik adalah ayahnya. Demikian juga Dasamuka tidak tahu bahwa yang diculik adalah anak kandungnya. Rahasia ini disimpan rapat-rapat oleh Wibisana dan Dewi Tari.
Kisah penculikan ini berawal saat Sinta melihat seekor kidang lucu dan bercahaya laksana emas. Ia memohon kepada Rama suaminya untuk menangkap kidang tersebut. Namun ternyata tidak mudah. Seekor kidang yang kelihatan jinak tersebut selalu gagal ditangkap Rama, hingga tidak disadarinya Rama semakin jauh meninggalkan Sinta dan Laksmana. Lama ditunggu dalam suasana cemas Rama tak kunjung datang. Tiba-tiba terdengarlah jerit melengking yang memilukan. Sinta dan Laksmana saling pandang, di dalam hati mereka ada perasaan yang sama. Sama-sama mengkhawatirkan keselamatan Rama. Maka kemudian Sinta menyuruh Laskmana untuk menyusul Rama. Laksmana kebingungan. Jika ia menyusul Rama, lalu bagaimana dengan keselamatan Sinta? Dalam suasana yang mencekam seperti ini tidakkah Sinta yang seharusnya mendapat perlindungan?  
Dikarenakan Laksmana tidak segera menyusul Rama, Sinta mempunyai prasangka bahwa Laksmana sengaja membiarkan Rama celaka. Maka kemudian keluarah kata-kata dari mulut Sinta: �Apakah jika kakanda Rama mati, aku bersedia menjadi istrimu?� Tuduhan Sinta atas dirinya itu sungguh sangat menyakitkan dan tak berdasar. Untuk membuktikan bahwa di hati Laksmana tidak terbersit sedikit pun niat untuk memiliki Sinta maka Laksmana menghilangkan ke-lelaki-annya dan berjanji akan hidup wadat. Selanjutnya Laksmana meninggalkan Sinta sendirian, namun sebelumnya ia menggoreskan rajah disekeliling Sinta.
Sepeninggal Laksmana Sinta keluar dari goresan rajah yang mengelilinginya karena terpancing rasa belaskasihan dari seorang brahmana tua yang kehausan dan kelaparan. Ternyata brahmana tua tersebut merupakan penjelmaan Dasamuka yang telah menyusun strategi untuk menculik Sinta.
Bermula dari pengaduan Sarpakenaka adiknya, yang dipotong hidungnya dalam perang tanding melawan Laksmana, Dasamuka tahu bahwa di tengah hutan Dandaka ada wanita yang sangat cantik. Menurut Sarpakenaka bahwa wanita itu pantas menjadi istri kakanda Dasamuka. Benarlah apa yang dikatakan Sarpakenaka, bahwa wanita itu sangat memikat. Dasamuka bernafsu untuk menculiknya. Dibantu oleh Kala Marica yang menjelma menjadi     seekor kidang kencana, untuk memancing Rama dan Laksmana meninggalkan Sinta, Dasamuka berhasil dengan mudah menculik Sinta.
Pada saat Sinta dibawa terbang Dasamuka, seekor burung Jatayu berniat menolong Sinta. Maka dengan sayapnya yang besar dan perkasa Jatayu berhasil menjatuhkan Dasamuka dan merebut Sinta. Dalam sekejap Sinta telah berpindah tangan, dari tangan Dasamuka berpindah ke sayap Jatayu. Dikarenakan secara psikologi Sinta mendapat goncangan hebat dan beruntun, maka jiwanya pun tergoncang. Seperti yang di alami Laksmana, niat baik Jatayu justru menimbulkan prasangka buruk di hati Sinta, sehingga keluarlah kata-kata yang menyakitkan dari mulit Sinta. �Aku tidak mau menjadi isterinya seorang raksasa apalagi menjadi isterinya seekor burung.�
Burung Jatayu yang sedang membawa Sinta tergoncang hatinya karena kata-kata Sinta yang merendahkan dirinya. Akibatnya ia lengah, sayapnya berhasil ditebas dengan pedang Mentawa, dan Sinta pun berhasil direbut kembali oleh Dasamuka, untuk dibawa terbang ke negara Alengka.
herjaka HS
Share:

Sabtu, 20 Desember 2014

Anjani

Figur Wayang Anjani

Dewi Anjani sebelum berwajah kera, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Anjani

Dewi Anjani adalah seorang putri yang cantik jelita dari pertapaan Grastina, kakak dari Guwarsa dan Guwarsi. Ibunya adalah Dewi Indradi dan bapaknya adalah Resi Gotama. Kecantikan Dewi Anjani tidak jauh berbeda dengan kecantikan Dewi Indradi ibunya. Hal tersebut dikarenakan sebelum menjadi istri Resi Gotama, Dewi Indradi adalah seorang Bidadari.

Selain kecantikan yang relatif sama, kedua wanita tersebut mempunyai kesenangan yang sama pula. Salah satunya yang menjadi kesenangan mereka adalah melihat-lihat pemandangan alam yang indah. Namun dikarenakan mereka tinggal di pertapaan, maka yang mereka nikmati sebatas keindahan alam yang berada disekitar pertapaan. Ada keinginan yang kuat diantara kedua anak dan ibu tersebut untuk dapat melihat keindahan alam dibelahan dunia lain, tidak hanya di wilayah pertapaan Grastina.
Sebagai sosok bidadari, keinginan yang kuat untuk dapat melihat keindahan alam di luar wilayah pertapaan Grastina, sesuai dengan apa yang diinginkan, ternyata mampu mengundang perhatian para dewa, terutama Dewa Surya, yang pada setiap harinya melihat keindahan alam di seluruh muka bumi. Karena perhatian yang berlebihan, Dewa Surya memberikan sebuah benda pusaka yang bernama Cupu Manik Astagina kepada Dewi Indradi. Dengan Benda tersebut Dewi Indradi dapat melihat keindahan alam di mana pun berada sesuai dengan imajinasinya.
Ketika pada suatu saat, Dewi Indradi bercengkrama dengan Cupu Manik Astagina, Dewi Anjani memergokinya. Ia sangat terpana dengan Cupu Manik Astagina dan meminta benda tersebut dari ibunya. Setelah Cupu Manik Astagina diberikan kepada Dewi Anjani, benda tersebut diketahui pula oleh kedua adiknya, dan menjadi rebutan. Mengetahui ketiga anaknya berebut benda pusaka milik Dewa Surya, Resi Gotama murka dan membuang Cupu Manik Astagina ke telaga Sumala.
Sesampainya di telaga Sumala, Dewi Anjani tidak mendapatkan benda yang diperebutkan. Karena letih kedua tangannya mengambil air telaga untuk membasuh mukanya. Keajaiban terjadi. Muka dan kedua tangannya yang basah karena air telaga, berubah wujud menjadi tangan kera dan muka kera. Hampir bersamaan waktunya dengan perubahan kedua adiknya dari seorang ksatria bernama Guwarsa dan Guwarsi menjadi seekor kera bernama Subali dan Sugriwa.
Dengan penyesalan yang dalam Anjani dan kedua adiknya kembali ke pertapaan. Oleh Resi Gotama Dewi Anjani disuruh melakukan tapa �nyantuka� yaitu bertapa dengan cara seperti katak. Di telaga Nirmala, Dewi Anjani membenamkan badannya yang molek tanpa busana di dalam jernihnya air telaga, sedangkan kepalanya berada di atas permukaan air. Selama bertapa, Dewi Anjani memakan dedaunan yang jatuh di depan mulutnya. Siang maupun malam, Dewi Anjani tak pernah berhenti memohon agar dirinya dipulihkan menjadi seorang putri yang cantik jelita.
Keprihatinan Dewi Anjani didengar oleh Batara Guru dewa tertinggi penguasa kahyangan. Ia kemudian turun ke bumi mendekati Dewi Anjani. Melihat tubuh molek tersebut Batara Guru tak kuasa membendung gelora birahinya, maka keluarlah kama Batara Guru dan jatuh menimpa daun sinom dan daun talas yang pernah untuk membungkus janin muda yang gugur dari rahim Dewi Sinta. Kedua daun tersebut jatuh dan hanyut persis di depan mulut Dewi Anjani. Maka kemudian dimakan dedaunan itu. Akibatnya Dewi Anjani hamil. Batara Guru menyadari bahwa kehamilan Dewi Anjani akibat dari perilakunya maka diperintahkannya para Bidadari untuk membantu proses persalinan Dewi Anjani.
Maka setelah tiba waktunya, Dewi Anjani melahirkan seorang bayi laki-laki berupa kera berbulu putih kemilau dan diberi nama Anoman. Dewi Anjani dan Anoman kemudian dibawa ke Kahyangan.
Peristiwa kelahiran kera berbulu putih menjadi tanda bahwa Dewi Anjani telah berhasil mengeluarkan watak kera yang ada di dalam dirinya. Watak yang saling berebut dan saling menggigit di antara sesama saudara. Kini Dewi Anjani telah dipulihkan seperti sedia kala. Wajahnya kembali cantik, ia tidak lagi mengandung kera di hatinya. Keranya telah diputihkan menjadi sosok Anoman.
herjaka HS
Share:

Jumat, 18 Juli 2014

Anoman (2)

Figur Wayang Anoman (2)

Anoman dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Anoman (2)

Dibawah asuhan Batara Bayu yang berkuasa atas angin, Anoman yang berujud kera berbulu putih tumbuh menjadi remaja yang perkasa. Atas perintah Batara Guru Anoman ditugaskan turun ke dunia untuk membantu Rama memerangi kejahatan. Kedatangan Anoman ke dunia menuju ke kerajaan kera yang berpusat di Goa Kiskenda, yang dirajai oleh Sugriwa uwak Anoman. Pada waktu itu Sugriwa sedang bermusuhan dengan Subali, saudara kembarnya.
Oleh karena Sugriwa tidak dapat mengalahkan Subali, Anoman diutus mencari bantuan untuk mengalahkan Subali. Maka kemudian bertemulah Anoman dengan Rama yang sanggup membantu Sugriwa dalam mengalahkan Subali. Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa dengan seluruh balatentara kera berjanji akan membantu Rama dalam mencari serta merebut Sinta dari tangan Dasamuka
Untuk menjajagi kekuatan Dasamuka di Negara Alengka, Anomanlah yang dipercaya Rama untuk menyusup ke Negara Alengka. Perjalanan Anoman sebagai duta Rama dihadang oleh Dewi Sayempraba putri begawan Wiswakrama. Dengan daya pikatnya, Dewi Sayempraba berhasil membujuk Anoman untuk singgah di kediamannya. Anoman, sebagai remaja belia yang belum berpengalaman terlena oleh rayuan Dewi Sayempraba. Dibalik pelayanan yang lembut dan romantis ada niat jahat yang sengaja disembunyikan. Dewi Sayempraba yang adalah isteri Dasamuka bermaksud membunuh Anoman dengan taburan racun pada buah-buahan yang disajikan, agar supaya Anoman gagal menjadi duta Rama dalam memerangi Dasamuka.
Dengan tidak menaruh kecurigaan terhadap Dewi Sayempraba, Anoman memakan buah yang disajikan dengan lahapnya. Racun yang ada dalam buah tersebut bereaksi amat cepat. Anoman tiba-tiba menjadi buta dan kehilangan seluruh kekuatannya. Bagai seonggok kain basah Anoman dicampakkan dan sengaja dibiarkan oleh Dewi Sayempraba sampai maut menjemput.
Dalam kegelapan dan ketidak berdayaan Anoman dihampiri sosok burung Garuda yang terluka namanya Sempati. Racun yang menjalar disekujur tubuh Anoman dihisap dengan paruh dan bulunya, hingga benar-benar bersih. Tidak beberapa lama kemudian Anoman dapat melihat kembali dan pulih kekuatannya.
Selanjutnya Garuda Sempati memberitahukan secara rinci mengenai Negara Alengka termasuk keberadaan taman Argosoka, tempat Dewi Sinta disekap. Setelah semuanya menjadi jelas, Anoman terbang secepat kilat menuju taman     Argosoka, meninggalkan Dewi Sayempraba yang telah menyekapnya dengan nikmat dan racun yang mematikan.
Dewi Sayempraba kecewa karena telah gagal menjalankan tugasnya untuk menghalangi Anoman menjadi duta ke Negara Alengka. Namun dibalik kegagalannya Dewi Sayempraba mendapatkan apa yang selama ini didambakan yaitu seorang anak, yang sekarang telah tumbuh dalam rahimnya. Benih itu telah disemaikan oleh Anoman
herjaka HS
Share:

Anoman Menjadi Senopati

Figur Wayang Anoman Menjadi Senopati

Anoman, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Anoman Menjadi Senopati

Setelah ditolong oleh Garuda Sempati, kekuatan Anoman pulih. Ia terbang meninggalkan Dewi Sayempraba yang hampir saja membunuh dirinya. Sebagai anak asuh Dewa Bayu, yang berkuasa atas angin, Anoman telah diangkat menjadi satu saudara tunggal Bayu dengan saudara Bayu yang lain yaitu: Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, Begawan Mainaka Bima dan Dewa Ruci, sehingga tidaklah heran jika Kera berbulu puth kemilau tersebut mampu terbang bersama angin dengan amat cepat. Sebentar kemudian ia hilang dari pandangan Dewi Sayempraba.
Seperti yang telah diberitahukan dengan rinci oleh Garuda Sempati mengenai letak Negara Alengka tempat Dasamuka bertahta dan letak Taman Argosoka tempat Dewi Sinta disekap, Anoman mengarahkan arahnya ke Taman Argasoka untuk menyampaikan pesan dari Rama kepada Sinta. Pesan itu berujud cicin tanda cinta dan keselamatan.
Ketika sampai di Taman Argasoka, Anoman hinggap pada pohon Nagasari. Dibalik rimbunnya pohon, Anoman melihat sosok wanita yang kurus kering, hingga kelihatan tulang iganya. Gelung rambut rusak dan kotor bercampur debu tanah. Pasti wanita inilah yang bernama Dewi Sinta. Anoman sungguh terharu melihat keadaan Dewi Sinta. Perasaan haru dan sedih itulah yang kemudian ditulis oleh Pujangga Yasadipura I dalam Serat Rama dengan sastra tembang macapat jenis lagu Kinanthi, seperti ditulis dibawah ini:
1. Anoman malumpat sampun
prapteng witing nagasari,
mulat mangandhap katingal,
wanodyayu kuru aking,
gelung rusak awor kisma,
ingkang iga-iga keksi
(Anoman melompat di pohon Nagasari, memandang ke bawah melihat wanita cantik kurus kering, gelung rambutnya rusak bercampur debu tanah, tulang iganya kelihatan)
2. Pinandeng sarwi tumungkul,
Anoman ngiling-ilingi,
sarta mirsakken karuna,
sumedhot tyasira nenggih,
�Iya iki baya-baya
Kusuma putri Mantili �
(Tatapannya selalu menunduk, Anoman memperhatikan serta melihat bahwa ia sedang menangis tersentuh hati Anoman. Benarlah ini putri Mantili)
3. Medhun ing pragak tumungkul,
Anoman sarwi ningali,
Umengetaken sesambat,
Sangsaya inggil hyang rawi,
Sakenjing gennya karuna,
Kusuma Putri Mantili
(turun dari batang pohon, Anoman ingin melihat dan mendengarkan apa yang membuatnya sang Dewi bersedih. Matahari semakin tinggi, sudah sejak pagi Putri Kedaton Mantili menangis
Setelah matahari mencapai puncaknya, tangis Dewi Sinta berhenti bersamaan dengan kedatangan Anoman. Wajah Sinta yang kuyu layu tiba-tiba berbinar penuh harap, ketika Anoman menyerahkan cincin dari Rama. Sebagai tanda sebuah pengharapan akan datangnya Rama untuk membebaskan dirinya, Dewi     Sinta menitipkan tusuk konde kepada Anoman untuk di berikan kepada Rama.
Di Taman Argasoka ini Dewi Sinta ditemani oleh Dewi Trijatha, adik Dasamuka. Trijata diberi tugas oleh kakaknya untuk membujuk Dewi Sinta agar mau menjadi istri Dasamuka dengan sukarela. Anoman jatuh hati kepada Trijata yang sintal cantik, ramah dan menyenangkan. Namun Anoman tidak meuruti gejolak hatinya. Ia terlebih dahulu ingin menyelesaikan tugasnya sebagai duta Rama.
Pada akhirnya Anoman berhasil dengan gemilang menjadi duta Rama. Ia, seorang diri mampu memporak-porandakan dan membakar Negara Alengka. Atas prestasinya, Anoman diangkat oleh Prabu Rama menjadi Senapati Negara Pancawati.
Anoman yang sudah mengetahui keberadaan Dewi Sinta serta kekuatan Dasamuka dipercaya memimpin penyerangan ke Negara Alengka, untuk merebut Dewi Sinta.
Perang besar pun terjadi antara prajurit raksasa dan prajurit kera, antara Dasamuka dan Rama. Perang maha dashyat tersebut dinamakan perang Giriantara. Dalam perang Giriantara Anoman berhasil menghentikan perlawanan Dasamuka yang tidak dapat mati karena daya aji Pancasona.
herjaka HS
Share:

Anoman (1)

Figur Wayang Anoman (1)

Anoman dalam bentuk Wayang Kulit Purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Anoman (1)

Di sebuah telaga Nirmala ada seorang Dewi muda namanya Dewi Anjani. Ia sedang melakukan tapa Ngodok, yaitu laku tapa dengan merendamkan badannya ke dalam air dan tidak memakai busana. Laku tapa tersebut dilakukan oleh Anjani untuk sebuah permohonan, yaitu agar dirinya dibebaskan dari kutukan. Dewi Anjani yang berparas cantik dikutuk sehingga berubah menjadi berparas kera ketika ia dan dua saudaranya saling berebut pusaka Cupumanik Astagina. Walaupun Anjani berparas kera, kemolekan dan kemulusan tubuh seorang Dewi muda masih nampak kentara di balik jernihnya air telaga.
Pada saat itu Batara Guru dewa tertinggi penguasa kahyangan sedang melanglang buwana dan melintas di atas tempat Dewi Anjani yang sedang merendamkan diri tanpa busana di tengah telaga. Melihat tubuh molek tersebut Batara Guru tak kuasa membendung gelora birahinya, maka keluarlah kama Batara Guru dan jatuh menimpa daun talas. Daunt alas tersebut hanyut terbawa arus air telaga, dan menuju ke mulut Dewi Anjani untuk kemudian dimakan. Akibatnya Dewi Anjani hamil. Batara Guru menyadari bahwa kehamilan Dewi Anjani akibat dari perilakunya maka diperintahkannya para Bidadari kahyangan untuk membantu persalinan Dewi Anjani. Namun jika dirunut dengan seksama kehamilan Dewi Anjani tersebut tidak semata-mata karena kama Batara Guru, namun juga karena daun talas. Karena sesungguhnya daun talas yang dimakan Dewi Anjani tersebut mempunyai kisahnya tersendiri.
Kisah daun talas bermula ketika Rama dan Sinta diikuti oleh Laksmana adik Rama, meninggalkan Negara Ayodya memasuki hutan Dandaka. Pada waktu itu Dewi Sinta dalam keadaan hamil muda. Dikarenakan hidup susah di hutan maka kandungan Sinta mengalami keguguran. Janin muda yang gugur dari rahim Sinta dibungkus dengan daun talas dan dibuang jauh oleh Laksmana dan jatuh di telaga Nirmala. Daun talas pembungkus janin anak Sinta itulah yang bersama kama Batara Guru kemudian masuk kerahim Dewi Anjani dan membuahkan janin baru yang hidup.
Maka setelah tiba waktunya Dewi Anjani melahirkan seorang bayi laki-laki berupa kera berbulu putih kemilau dan diberi nama Anoman. Dewi Anjani dan Anoman kemudian dibawa ke Kahyangan. Sesampainya di Kahyangan Dewi Anjani dibebaskan dari kutuknya. Wajahnya dipulihkan seperti sedia kala berparas seorang Dewi yang molek. Sedangkan Anoman oleh Batara Guru diserahkan kepada Batara Bayu, Dewa penguasaa angin, untuk diasuh dan dididik agar menjadi seorang ksatria sakti dan perkasa yang berwatak luhur dan rendah hati.
Oleh Batara Bayu Anoman diajari berbagai ilmu yang mengandalkan kekuatan angin. Oleh karena itu Anoman juga bernama Maruti yang artinya angin, karena diasuh oleh dewa angin. Anoman diberi busana yang serupa dengan busana Dewa Bayu yaitu Kampuh Poleng Bang Bintuluaji, dan Kuku Pancanaka  
Dari kisah tersebut tidak salah jika Anoman disebut Guru Putra karena anak Batara Guru, juga tidak salah jika disebut Ramandayapati karena anak Rama dan Bayu Suta karena anak Batara Bayu.
herjaka HS
Share:

Kumbakarna

Figur Wayang Kumbakarna

Kumbakarna dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Kumbakarna

Kumbakarna adalah anak nomor dua dari empat bersaudara. Ia dan tiga saudara lainnya yaitu: Dasamuka, Sarpakenaka dan Wibisana merupakan anak-anak yang dilahirkan dari pasangan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Sesungguhnya Begawan Wisrawa tidak berniat memperistri Sukesi. Konon pada awalnya Wisrawa bermaksud melamarkan anaknya. Namun setelah berhadapan dengan Dewi Sukesi, Wisrawa tak kuasa menahan nafsunya. Benih yang disemai oleh Wisrawa ke dalam rahim Sukesi adalah benih nafsu yang tak terkendali. Oleh karenanya keempat anaknya masing-masing mempunyai nafsu yang berlebihan. Kumbakarna mempunyai nafsu yang sangat besar dalam hal makan dan tidur.
Walaupun Kumbakarna berujud raksasa menakutkan sebesar gunung anakan, hatinya jujur dan lembut. Ia tidak senang dengan tindakan jahat dan perilaku angkaramurka. Maka ketika Dasamuka kakaknya menculik dewi Sinta isteri Prabu Rama, Kumbakarna tidak setuju. Ia menyarankan agar Sinta dikembalikan kepada Rama. Tetapi saran Kumbakarna ditolak, bahkan ia dimarahi dan diusir oleh Dasamuka. Maka pulanglah Kumbakarna ke Pangleburgangsa dan melakukan tapa tidur sampai berhari-hari.
Bersamaan dengan tapanya Kumbakarna, negara Alengka diserbu oleh prajurit kera bala tentara Prabu Rama, dan terjadilah perang besar. Satu demi satu senapati Alengka gugur. Dasamuka kawatir jika hal ini dibiarkan prajuritnya pasti akan habis. Maka diutuslah Indrajit anaknya, untuk membangunkan Kumbakarna. Dengan cara mencabut bulu di jari kaki Kumbakarna, indrajit berhasil membangunkan pamannya.
Setelah bangun dari tapa tidur, Kumbakarna diberi makan seribu tumpeng dan ingkung gajah. Dalam sekejap makanan yang disediakan tersebut habis dimakan. Setelah itu, Kumbakarna diperintahan oleh Dasamuka untuk maju berperang. Kumbakarna tersinggung, Ia tidak mau berperang hanya karena telah diberi makan. Maka dari itu makanan yang telah masuk ke dalam perut dimuntahkan kembali dengan bentuk utuh seperti sediakala. Kumbakarna juga tidak mau berperang membela Dasamuka yang menculik Sinta, tetapi Kumbakarna mau berperang untuk membela tanah air yang diserang musuh.
Dengan aji Gelapsaketi dan Kalamenga, Kumbakarna masuk ke medan perang. Ribuan prajurit kera mati ditangannya. Rama dan Leksmana cemas, jika dibiarkan prajurit kera akan habis oleh sepak terjang Kumbakarna. Maka kemudian majulah Rama dan Laksmana, menghadang Kumbakarna. Dengan panah saktinya Rama dan Laksmana berhasil memotong kedua tangan Kumbakarna. Tetapi Kumbakarna tetap mengamuk tanpa tangan. Korban semakin bertambah di pihak bala tentara kera. Rama dan Laksmana semakin menggencarkan serangan. Ketika Kumbakarna lengah, panah Rama dan Laksmana berhasil mengenai ke dua kaki Kumbakarna hingga putus.
Kumbakarna yang sudah tidak mempunyai kaki dan tangan masih mampu memberikan perlawanan dengan dahsyat. Dengan badannya ia bergulung-gulung membunuh musuh. Bagaikan ilalang yang dibabat petani, para kera mati bergelimpangan di medan pertempuran.
Melihat kejadian yang mengenaskan itu Rama tidak membiarkan prajuritnya habis menjadi korban amukan Kumbakarna. Panah andalan yang bernama Guwawijaya dilepaskan kearah leher Kumbakarna. Dan gugurlah adik Dasamuka itu sebagai pahlawan yang membela negara.
Kumbakarna meninggalkan satu isteri bernama Dewi Kiswani dan anak laki-laki yaitu, Kumba-kumba dan Aswani Kumba. Mereka tinggal di kasatrian Pangleburgangsa.
herjaka HS
Share:

Laksmana

Figur Wayang Laksmana

Laksmana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Laksmana

Laksmana adalah anak Prabu Dasarata yang lahir dari istri ketiganya yaitu Dewi Sumitrawati. Sejak kecil Laksmana bersama-sama dengan kakak-kakaknya dididik oleh Resi Wasita yang bijaksana dan sakti, oleh karenanya ia tumbuh menjadi satria yang baik, sakti serta jujur. Kasatrian Giri Kastuba adalah tempat tinggal Laksmana, namun ia jarang sekali tinggal di kasatrian tersebut, karena sebagian besar dari hidupnya didarmakan untuk kakak tirinya yaitu Rama. Kemana pun Rama pergi, Laksmana selalu mengikutinya, hingga Laksmana tidak pernah memikirkan diri sendiri. Di Mantili ketika Rama mengikuti sayembara, Laksmana ikut bersamanya. Saat Rama memenangkan sayembara dan memboyong Sinta pulang ke Ayodya, Laksmana pun mengikutinya. Ketika Rama di usir dari Ayodya dan menjalani hidup sengsara di hutan Dandaka, Laksmana dengan setia mengikutinya.
Namun rupanya kesetiaan Laksmana yang tulus kepada Rama disikapi berbeda oleh Sinta. Sinta justru merasa tidak nyaman atas keberadaan Laksmana yang tidak mau berpisah dengan Rama suaminya. Bahkan di dalam hatinya, Sinta mempunyai anggapan bahwa Laksmana mencintai dirinya, dan ingin memilikinya. Perasaan Sinta yang tidak senang dengan pribadi Laksmana itulah yang kemudian muncul dalam wujud kata-kata.
Kata-kata yang paling tajam menusuk menyakitkan itu terlontar ketika mereka bertiga berada di hutan Dandaka. Pada saat itu mereka dihampiri seekor kijang berbulu emas yang amat lucu. Kijang tersebut mendekati Sinta, namun tidak pernah dapat disentuhnya. Ia sengaja menggoda Sinta. Rama dan Laksmana membantu Sinta untuk menangkap Kijang tersebut, namun tidak berhasil. Kijang berbulu emas yang kelihatan jinak tersebut ternyata gesit luar biasa. Rama panas hatinya, ia merasa dipermainkan oleh kijang emas tersebut. Kemana pun si kijang lari, Rama memburunya, hingga semakin jauh meninggalkan tempat di mana Sinta dan Laksmana berada.
Lama ditunggu Rama tidak muncul jua. Kecemasan mulai merambati hati Sinta dan Laksmana. Tiba-tiba dari arah tengah hutan terdengar suara jerit kesakitan. Jangan-jangan itu suara Rama yang sedang dalam bahaya. Sinta gusar, takut, dan mencemaskan keselamatan Rama. Ia menyuruh Laskmana untuk menyusul Rama. Tetapi Laksmana tidak segera pergi. Ia dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika ia menyusul Rama, lalu bagaimana dengan keselamatan Sinta? Dalam suasana seperti ini tidakkah Sinta lebih membutuhkan perlindungan? Karena Laksmana tidak segera pergi menyusul Rama, maka dari mulut Sinta yang mungil itu keluarlah kata-kata tajam menusuk menyakitkan Laksmana. �Apakah jika kakanda Rama mati, aku bersedia menjadi istrimu Laksmana?�
Kata-kata Sinta telah menghujam dalam di hati Laksmana. Ia sedih karena tuduhan Sinta tidak sesuai dengan nuraninya. Kecewa, karena kakak iparnya yang selama ini di hormati dan dihargai telah mengeluarkan kata-kata kasar tak berdasar. Marah, karena ia sebagai lelaki telah diremehkan. Maka dengan suara lantang Laksmana mengucapkan sumpah wadat dihadapan Sinta, disusul dengan memotong planangannya, sebagai tanda bahwa ia tidak akan kawin dengan seorang wanita. Potongan planangan Laksmana diberi nama Laksmana Sadu. Laksmana dan Laksmana Sadu hidup berdampingan tetapi tidak menjadi satu, sehingga tidak dapat saling melengkapi.
Sejak peristiwa itu, hingga akhir hidupnya Laksmana tidak beristri. Mungkin hal tersebut sebagai akibat dari hukum karma. Karena beberapa waktu sebelumnya, Laksmana telah menyakiti hati seorang wanita yang jatuh cinta kepada dirinya, dengan menampar hidungnya hingga grumpung tak berhidung. Dengan menutupi bagian hidungnya yang berlumuran darah, wanita jelmaan Sarpakenaka itu mengumpat kutuk bahwa Laksmana tidak akan pernah dapat bercinta dengan wanita.
Walaupun dalam hidupnya ada dua wanita yang jatuh hati kepada Laksmana, yaitu Dewi Antrakawulan dan Dewi Trijata, Laksmana tidak pernah dapat menanggapi cinta mereka. Apalagi semenjak Laksmana Sadu daipisahkan secara paksa dari tubuhnya, hidup Laksmana menjadi tidak utuh.
Oleh karenanya ketidak utuhan itu, diujung hidupnya, Laksmana terpaksa harus menitis pada manusia selanjutnya yang dapat menyempurnakan hidup. Laksmana menitis pada Arjuna, karena Arjunalah yang dapat mengutuhkan kembali kelelakiannya Laksmana yang telah disia-siakan dalam hidupnya. Sedangakn Laksmana Sadu yang adalah jati diri lelaki itu lebih cocok menitis pada Baladewa yang putih. Dikarenakan sebagai lelaki Baladewa mampu menempatkan kelelakiannya apa adanya dan sesuai dengan hakikatnya.
herjaka HS
Share:

Burisrawa

Figur Wayang Burisrawa

Burisrawa dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Burisrawa

Burisrawa adalah anak nomor empat diantara lima bersaudara, anak dari pasangan Prabu Salya dan Dewi Setyawati, dengan urutan sebagai berikut : Dewi Erawati isteri Prabu Baladewa raja Mandura, Dewi Surtikanti isteri Adipati Karna raja Awangga, Dewi Banowati isteri Prabu Duryudana raja Hastinapura, kemudian Burisrawa dan yang bungsu adalah Raden Rukmarata. Jika empat saudara Burisrawa berparas cantik-cantik dan tampan, tidak demikian halnya dengan Burisrawa. Walaupun ia lehih gagah dan perkasa dibanding Rukmarata, ia bermuka raksasa yang menakutkan. Menurut pendapat banyak orang, Burisrawa adalah korban dari perbuatan orang tuanya pada waktu muda. Saat itu ayah Burisrawa malu mempunyai mertua Bagaspati yang adalah seorang begawan bermuka raksasa. Karena rasa malu itu Salya muda tega membunuh Bagaspati mertuanya.
Selain mukanya yang jelek, Burisrawa tidak seberuntung saudara-saudaranya. Sepanjang hidup Burisrawa tidak pernah mendapatkan cinta yang didamba siang malam dari Dewi Sembadra, adik Baladewa. Saat masih remaja ia pernah menggoda gadis pujaannya itu, tetapi ia dihalang-halangi oleh Setyaki adik sepupu Baladewa. Burisrawa pun marah dan berkelahi dengan Setyaki. Keduanya mempunyai kesaktian yang imbang, sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Perkelahian mereka baru berhenti setelah datang Baladewa orang yang paling ditakuti oleh keduanya untuk melerai. Pada kesempatan itu, Baladewa menjanjikan bahwa kelak Burisrawa akan dikawinkan dengan Sumbadra. Di satu sisi Burisrawa lega atas janji Prabu Baladewa, namun disisi lain ia masih menyimpan dendam yang membara kepada Setyaki. Demikian pula dengan Sentyaki, dendamnya tak pernah padam.
Selang beberapa tahun, perkelahian antara ke duanya terjadi lagi ketika Burisrawa mengamuk di Dwarawati, karena kalah bersaing dengan Arjuna dalam memenuhi tukon pengantin yang sesuai dengan permintaan Baladewa. Perkelahian ini pun terpaksa berhenti karena dilerai oleh Baladewa, namun mereka bersumpah, bahwa keduanya akan bertemu lagi dalam perang besar Baratayuda kelak. Dan perang itu adalah perang terakhir, karena tidak akan berhenti lagi sebelum salah satu diantaranya mati.
Sumpah Burisrawa dan Setyaki ini menjadi kenyataan. Saat perang Baratayuda berlangsung, Burisrawa menjadi senapati di pihak Kurawa dan Setyaki menjadi senapati di pihak Pandawa, dan ke duanya berperang atas nama dendam. Sesungguhnya dalam perang terakhir itu Burisrawa lebih unggul dalam hal stamina. Setyaki telah kehabisan tenaga dan tak berdaya di bawah cengkeramannya Burisrawa. Namun pada saat kritis, bantuan dari Arjuna datang. Burisrawa mati terkena panah Arjuna, dengan demikian Setyaki terselamatkan.
Burisrawa gugur dalam perang besar Baratyuda, meninggalkan satu isteri yaitu Dewi Kiswari anak Prabu Kiswamuka Raja Negeri Cindekembang dan satu anak yang diberi nama Arya Kiswara.
Herjaka HS
Share:

Setyaki

Figur Wayang Setyaki

Wayang kulit Purwa Setyaki. Buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)
Setyaki

Setyaki atau Sencaki adalah anak Prabu Setyajid, Raja Negara Lesanpura yang berpasangan dengan Dewi Wresini atau Dewi Sini. Menjelang kelahirannya, Dewi Wresini nyidam, ingin menaiki Harimau yang bernama Singamulangnjaya. Harimau tersebut ketika didekati Dewi Wesrini kelihatan jinak. Namun setelah     Dewi Wresini berada di punggungnya, Singamulangnjaya berubah ganas. Ia secara mengejutkan lari dengan kencangnya. Dewi Wresini amat terkejut, ia jatuh dari punggung harimau. Bersamaan dengan itu bayi yang ada di dalam kandungan lahir dipunggung harimau. Singamulangjaya semakin liar. Bayi Setyaki berusaha dimakan. Namun usahanya selalu gagal. Bayi yang masih merah tersebut tidak hancur karena gigitan Singamulangnjaya. Malahan dengan cepat ia tumbuh menjadi besar. Karena merasa dirinya terancam, bayi yang sudah menjadi dewasa itu membela diri dari serangan harimau. Pada akhirnya Setyaki berhasil membunuhnya. Sejak saat itu Setyaki menyandang nama Singamulangnjaya.
Selain Singamulangnjaya, Setyaki juga menyandang nama Bima Kunting. Nama itu didapat dari Bimasena, karena Sentyaki kuat mengangkat pusaka Gada Rujak Polo milik Bima. Bebarengan dengan pemberian nama Bima Kunting, Bima memberikan sobekan kampuhnya kepada Setyaki.
Dikarenakan tekun menjalani laku tapa, Setyaki muda mendapatkan pusaka ampuh pemberian Dewa yang berupa Gada Wesi Kuning dan panah Nagabanda. Setyaki seorang kesatria yang jujur, tegas, pemberani, menjunjung tinggi sikap perwira dan selalu berpihak kepada kebenaran. Itulah sebabnya Kresna mengangkatnya sebagai dan benteng negara, sapu kawat dan panglima perang negara Dwarawati.
Dari istrinya yang bernama Dewi Garbarini putri Prabu Garbanata dari negara Garbaruci, lahirlah anak laki-laki yang bernama Raden Arya Sanga-Sanga. Kelak anak Setyaki tersebut menjadi Patih Negara Hastina pada jaman pemerintahan Prabu Parikesit. Setyaki tinggal di Garbaruci meneruskan mertuanya Prabu Garbanata.
Pada saat perang Baratayuda menginjak hari ke 5, Setyaki memohon kepada Prabu Kresna untuk menjadi Senapati perang. Karena pada hari itu anak- anak Setyaki, kecuali Arya Sanga-Sanga mati oleh tangan Burisrawa musuh Setyaki sejak remaja. Permohonan Setyaki dikabulkan oleh Kresna pada hari ke 14. Setyaki menjadi senapati dari pihak Pandawa dan Burisrawa menjadi Senapati dari pihak Kurawa.
Sejatinya perang tanding antara Setyaki dan Burisrawa tersebut dimenangkan oleh Burisrawa. Setyaki kala itu sudah tidak berdaya. Burisrawa siap mengayunkan pedangnya ke leher Setyaki. Namun dikarenakan campur tangan Kresna, panah Arjuna telah memutus lengan Burisrawa, sehingga Setyaki berhasil membunuh Burisrawa.
Setyaki seorang kesatria jujur, pemberani, dan menjunjung tinggi sikap perwira, namun karena dendamnya kepada Burisrawa, ia telah begitu saja mengabaikan sifat-sifat positif yang selama ini dihidupinya. Setyaki telah membunuh Burisrawa, pada saat Burisrawa tidak berdaya.
herjaka HS
Share:

Patih Udawa

Figur Wayang Patih Udawa

Patih Udawa, wayang kulit buatan Kaligesing, Purworejo.
Koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Patih Udawa

Udawa adalah seorang patih negara Dwarawati, tempat Prabu Kresna menjadi raja. Walaupun jabatan Patih merupakan jabatan tertinggi setelah raja, Ia tidak pernah menggerutu dalam menjalankan tugasnya. Hari-harinya selalu dibarengi dengan kelakar dan sendau gurau. Namun hal tersebut tidak mengurangi ketaatan dan kesetiaannya dalam mengabdi raja. Kresna pun amat menyayangi Udawa. Hubungan mereka tidak sekedar hubungan formal antara patih dan raja, tetapi lebih dari itu. Kresna menganggap Udawa sebagai saudara tua dengan sebutan Kakang Patih, karena memang demikianlah sesungguhnya.
Menurut sejarah, Kresna dan Udawa itu merupakan saudara seayah lain ibu. Udawa adalah anak Prabu Basudewa hasil dari hubungannya dengan dayang istana yang luwes, cantik dan pandai menghibur, bernama ken Sayuda. Sedangkan Kresna adalah anak Basudewa yang lahir dari salah satu istrinya bernama Dewi Mahindra. Untuk membuang aib, dikarenakan Ken Sayuda bukan     istri Basudewa, ia diterimakan kepada Antagopa, seorang Demang di Widarakandang. Di kademanagan tersebut Ken Sayuda berganti nama, Nyai Sagopi.
Setelah tiba waktunya, Nyai Sagopi melahirkan seorang bayi dan diberi nama Udawa. Secara lahir Udawa adalah anak pasangan Demang Antagopa dan nyai Sagopi, namun sejatinya Udawa adalah anak Prabu Basudewa raja Mandura.
Walau pun Udawa mengetahui bahwa rajanya adalah adiknya, ia tidak pernah menolak perintahnya, walaupun perintah tersebut bertentangan dengan nuraninya. Salah satu perintah Prabu Kresna yang sangat menyiksa dirinya adalah ketika dalam perang Baratayuda ia diperintah untuk berada di pihak Kurawa. Dengan pertimbangan bahwa Udawa telah mengawini Antiwati putri bungsu Sengkuni, seorang Patih negara Hastinapura, tempat para Kurawa mukti wibawa.
Hingga perang Baratayuda usai, Udawa masih selamat, karena memang dia setengah hati dalam berperang melawan para Pandawa. Jabatan Patih Dwarawati masih ia sandang pada usia yang semakin tua. Ia memang berjanji kepada Kresna, bahwa seluruh hidupnya ia darma baktikan kepada Raja Dwarawati. Dan janji itu ia buktikan.
Ketika murid Kresna, raja Sriwedari yang bernama Prabu Arjunapati melampiaskan sakit hatinya dan bersama dengan prajuritnya menyerbu Dwarawati, Patih Udawa berusaha dengan seluruh kekuatan membendung serangan itu. Patih Udawa berhadapan dengan Prabu Arjunapati. Diantara keduanya berlangsung perang tanding yang sengit. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Bahkan akhir dari perang tanding tersebut, Prabu Arjunapati dan Patih Udawa gugur bersama.
Hingga tetes penghabisan ia tumpahkan darahnya di tanah Dwarawati, tempat Udawa mengabdikan diri sejak belia hingga usia senja.
herjaka HS
Share:

Wibisana

Figur Wayang Wibisana

Wibisana dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Wibisana

Wibisana adalah anak bungsu dari empat bersaudara putra pasangan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Wibisana satria berparas tampan, tidak seperti ke tiga kakaknya yang berwajah raksasa yaitu, Prabu Dasamuka, Raden Kumbakarna, dan Dewi Sarpakenaka. Ketika masih remaja ke empat anak Begawan Wisrawa tersebut melakukan laku tapa di gunung Gohkarna selama bertahun-tahun. Pada akhir tapanya, masing-masing dari mereka mendapat anugerah dari Dewa sesuai dengan keinginannya. Sewaktu Hyang Narada bertanya kepada Wibisana, apa yang diinginkannya? Wibisana menjawab bahwa dirinya ingin menjadi kesatria sejati yang dapat menempatkan nilai-nilai kebenaran di atas nilai-nilai yang lain. Hyang Narada mengabulkan apa yang dimohon Wibisana dan berjanji atas nama para dewa akan senantiasa membantu perjuangan Wibisana dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran di dunia.
Ketika pada suatu hari Wibisana mendengarkan ramalan para Resi negara Alengka, yang mengatakan bahwa Negara akan mengalami bencana besar dikarenakan ulah Prabu Dasamuka yang akan mengawini anaknya sendiri, yang     sekarang masih dalam kandunag Dewi Tari istri Dasamuka. Hal tersebut dilakukan Dasamuka, karena anak tersebut merupakan titisan Dewi Widowati, yang sejak dari Lokapala selalu dikejar-kejar Dasamuka untuk diperistri. Wibisana berusaha mencegah agar kakaknya tidak melakuan tindakan yang tidak benar, dengan mengawini anaknya sendiri. Karena jika seorang raja mengawini anak kandungnya negara serta rakyatnya akan tertimpa bencana besar.
Maka setelah genap waktunya Dewi Tari melahirkan bayi perempuan, Wibisana segera bertindak. Ia, dibantu oleh para Dewa, mencipta bayi laki-laki dari gumpalan mega di langit yang diberi nama Begananda, untuk mengganti bayi perempuan. Sedangkan bayi perempuan anak Dasamuka yang sesungguhnya dihanyutkan di sungai.
Bayi perempuan yang kemudian di temukan oleh Prabu Janaka raja Mantili dan diberi nama Dewi Sinta, menjadi istri Rama, dan dicuri oleh Dasamuka di hutan Dandaka untuk diboyong di Alengka. Tidak ada yang tahu bahwa Dewi Sinta adalah anak kandung Dasamuka. Namun Dasamuka tahu bahwa Dewi Sinta adalah titisan Dewi Widowati, dambaan hatinya. Oleh karenanya Dasamuka sangat bernafsu untuk memperistri Dewi Sinta.
Wibisana menentang keinginan Dasamuka mengawini Dewi Sinta. Kakanda Prabu hal itu tidak benar. Sebaiknya Dewi Sinta dikembalikan kepada Prabu Rama suaminya. Saran Wibisana membuat Dasamuka murka. Wibisana diusir dari Negara Alengka.
Dengan perasaan hancur Wibisana meninggalkan tanah tumpah darahnya. Ia teringat akan kata Hyang Narada, bahwasannya memperjuangkan kebenaran itu tidak mudah. Banyak rintangan dan hambatan yang membutuhkan pengorbanan. Wibisana telah mengorbankan tanah tumpah darahnya, negaranya, saudara-saudaranya. Semuanya ditinggalkan demi sebuah kebenaran. Kemudian Wibisanan bergabung dengan Prabu Rama.
Pada saat terjadi perang besar yang dinamakan Perang Giriantara, antara Dasamuka dan bala tentara Alengka melawan Rama serta pasukan kera di pesanggrahan Swelagiri, Wibisana diangkat oleh Rama menjadi penasihatnya, dengan pertimbangan bahwa Wibisana banyak mengetahui seluk beluk istana serta peta kekuatan Negata Alengka. Wibisana juga mengetahui rahasia kekuatan para senopati perang Alengka.
Bersama Wibisana, Rama berhasil mengalahkan Dasamuka serta prajurit prajuritnya dengan tidak menghancurkan negara. Sepeninggal Prabu Dasamuka, Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja di Negara Alengka. Nama Alengka kemudian diganti menjadi Singgelapura. Wibisana didampingi seorang istri bernama Dewi Triwati serta kedua putranya yaitu Dewi Trijata dan Raden Denta Wilukrama.
Namun sebelum naik tahta di Singgelapura, Rama memberi wejangan Astabrata kepada Wibisana. Astabrata adalah delapan laku watak yang seharusnya diupayakan oleh seorang pemimpin. yaitu: 1. Berwatak Matahari: memberi energi dan daya hidup. 2. Berwatak Bulan: menerangi bagi mereka yang berada dalam kegelapan sehingga memberi rasa keindahan, ketentraman 3. Berwatak Bintang: menjadi penghias dan pedoman arah bagi mereka yang kehilangan arah di malam hari. 4. Berwatak Angin: dapat mengisi setiap ruangan yang kosong dan dapat melakukan tindakan yang teliti, cermat dalam menyelami kehidupan. 5. Berwatak Mendung, berwibawa menakutkan, tetapi sesudah menjadi air dapat menghidupkan segala tumbuhan dan memberi manfaat bagi sesama. 6. Berwatak Api: bertindak tegas, adil, tidak pandang bulu. 7. Berwatak Samudra: mempunyai pandangan yang luas, rata dan sanggup menerima persoalan apapun tanpa kebencian 8. Berwatak Bumi: mempunyai sifat sentosa, suci dan jujur serta memberi anugerah kepada yang berjasa
Tidak hanya Wibisana, Setiap pemimpin, bahkan setiap orang, tak terkecuali, dapat menerapkan delapan watak tersebut. Karena sejatinya, bagi mereka yang dapat menerapkan ajaran Astabrata hidupnya akan bermahkota seperti layaknya seorang raja, walaupun ia hanyalah orang biasa nan papa.
herjaka HS
Share:

Brahala

Figur Wayang Brahala

Brahala dalam bentuk wayang kulit,
karya Bp. Ngatiman dari Gendeng Bangunjiwa Bantul,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Brahala

Brahala adalah sosok raksasa sebesar gunung yang berwajah sangat menakutkan. Ia mempunyai tangan seribu maka disebut pula Balasrewu, yang masing-masing tangannya memegang senjata sakti. Digambarkan pula, kedua matanya melotot menyeramkan. Brahala, di dalam bahasa Jawa merupakan kerata basa dari kata bubrah dan ala yang artinya rusak dan jelek. Sesungguhnya Brahala ini adalah penjelmaan suatu kesaktian yang dimiliki oleh orang yang menjadi titisan Dewa Wisnu. Ada beberapa orang yang menjadi titisan Dewa Wisnu, namun hanya dua orang yang dapat menjelma menjadi Brahala yaitu Harjuna Sasrabahu raja Maespati dan dan Kresna raja Dwarawati.
Proses untuk menjadi Brahala disebabkan oleh dua hal yang pertama adalah karena kemarahan besar yang disebut dengan tiwikrama. Tiwikrama yang kemudian mengantar Harjuna Sasrabahu menjadi Brahala terjadi dua kali, yang pertama ketika Prabu Harjuna Sasrabahu marah karena ditantang Sumantri Patihnya. Dan yang kedua saat Harjuna Sasrabahu berhadapan dengan Dasamuka raja Alengka. Demikian pula Kresna, ia melakukan hal yang     sama seperti yang dilakukan Harjuna Sasrabahu. Dua kali Kresna tiwikrama berubah menjadi Brahala. Yang pertama ketika mencuri Dewi Rukmini dan yang ke dua ketika sebagai duta di Negara Hastinapura. Ketika menjadi duta untuk menagih bumi Hastinapura yang menjadi haknya para Pandawa, sresna sangat marah dikarena dirinya dipermainkan dan di ingkari oleh Duryudana, maka kemudian ia tiwikrama menjadi Brahala, mengamuk dan merobohkan beteng kedaton kraton Hastinapura, hingga menewaskan Destarastra dan Gendari.
Namun tidak selalu kemarahan Harjuna Sasrabahu dan Kresna akan menjelnma menjadi Brahala. Seperti yang terjadi ketika Sesaji Raja Suya, Kresna tidak menjelmakan dirinya menjadi Brahala walau pada waktu itu Kresna sangat marah kepada Sri Supala dan bahkan sampai membunuhnya.
Selain Tiwikrama (amarah), proses untuk menjadi brahala dapat terjadi karena yang bersangkutan (Harjuna Sasrabahu dan Kresna ) memang berniat mengeluarkan kesaktiannya dengan mengetrapkan mantra sakti dibarengi tiga kali melangkahkan kaki yang disebut dengan Triwikrama. Tri artinya tiga sedangkan krama artinya patrap atau keadaan tubuh.
Triwikrama ini dilakukan oleh Harjuna Sasrabahu saat menuruti permintaan Dewi Citrawati isterinya untuk bersenang-senang di sungai Gangga. Pada waktu itu Harjuna Sasrabahu tidak sedang marah, tetapi sengaja mengubah dirinya menjadi Brahala untuk membendung sungai demi kepentingan permaisurinya.
herjaka HS
Share:

Indrajit

Figur Wayang Indrajit

Indrajit dalam rupa wayang kulit,|
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)
Indrajit

Indrajit disebut pula Megananda karena keberadaannya dipuja dari sebuah mega. Ia juga disebut Begananda karena Indrajit mempunyai aji yang sangat dahsyat namanya Begananda. Secara lahir Indrajit adalah anak Dasamuka, raja Alengka, namun sesungguhnya ia adalah anak �pujan,� yaitu anak yang lahir dari hasil pemujaan. Bayi laki-laki Indrajit dipuja oleh Wibisana bersama dengan para dewa dari gumpalan mega, untuk menukar bayi perempuan yang dilahirkan Dewi Tari istri Dasamuka. Penukaran bayi itu dilakukan oleh Wibisana atas persetujuan Dewi Tari, sebagai upaya pencegahan agar Dasamuka tidak mengawini anaknya sendiri, karena menurut ramalan para resi bahwa bayi perempuan itu adalah titisan Dewi Widowati yang kelak akan diperistri Dasamuka.
Proses penukaran pun terjadi dengan sangat rahasia. Bayi perempuan, anak Dasamuka yang sesungguhnya dimasukkan ke dalam kotak kendaga dan dihanyutkan ke sungai. Ketika Dasamuka pulang dari lawatannya ke luar daerah, ia sangat marah mendapatinya bayi laki-laki di depan Dewi Tari istrinya. Dasamuka mempercayai ramalan para resi, bahwa anaknya akan lahir     perempuan, karena titisan Widowati. Oleh karenanya bayi laki-laki itu bukan anaknya. Ia dengan geram mengambil bayi itu dan membantingnya di lantai. Benturan keras itu tidak membuatnya bayi Indrajit terluka, bahkan sebaliknya. Ia semakin kuat. Setiap kali Dasamuka membantingnya, saat itu pula bayi Indrajit tumbuh semakin kuat dan menjadi besar. Tidak beberapa lama kemudian Indrajit telah menjadi seorang ksatria yang gagah perkasa serta sakti mandraguna. Ia tidak terima atas perlakuan Dasamuka. Maka kemudian terjadilah perang diantara Indrajit dan Dasamuka. Ada kemiripan gerak, watak, karakter dan emosi di antara ke duanya. Melihat kenyataan yang terjadi, akhirnya Dasamuka mengakui bahwa Indrajit adalah anaknya. Bahkan Dasamuka sangat menyayanginya, dan kelak diharapkan dapat meneruskan tahta Alengka.
Dengan keberadaan Indrajit, negara Alengka semakin kuat, Indrajit memiliki sifat serakah, juga sewenang-wenang, mirip ayahnya. Ia memiliki tiga panah sakti yaitu: panah Asurastra, bila dilepaskan berubah menjadi rantai yang kemudian mengikat musuh, atau berubah menjadi ular yang melilit musuh. Panah Nagapasa, bila dilepas berubah menjadi ribuan ular dan menyerang musuh. Panah Mahanosara, bila dilepas semua orang yang berada di daerah sasaran akan terserang rasa kantuk yang luar biasa.
Indrajit tinggal di kasatrian Bikukung bersama seorang istri yaitu Dewi Sumbaga serta tiga anaknya yakni: Begasura, Dewi Indraji dan Dewi Idrarum.
Ketika terjadi perang besar yang dinamakan perang Giriantara, antara Alengka melawan prajurit kera dari Swelagiri, Indrajit menjadi senapati Alengka. Atas kesaktiannya itu ia dengan mudah membunuh prajurit kera dalam jumlah yang besar. Atas saran Wibisana, Lesmana lah yang menghadapi Indrajit dengan panah pusaka Surawijaya. Maka ketika Indrajit terkena panah pusaka milik Lenmana, ia roboh di medan laga. Saat itu pula Wibisana menghampiri keponakkannya yang sudah tidak berdaya, Wibisana memuja jasad Indrajit agar kembali seperti sebelum ia tercipta, yakni segumpal awan di langit biru.
herjaka HS
Share:

Subali

Figur Wayang Subali

Subali dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Subali

Subali adalah anak Resi Gotama dari pertapaan Grastina. Ibunya bernama Dewi Indradi. Ia mempunyai dua saudara yaitu Sugriwa dan Anjani. ketika muda Subali bernama Guwarsa dengan wajah tampan. Tetapi sesudah ketiga saudara tersebut saling berebut Cupu Manik Astagina yang dibuang oleh Resi Gotama ke telaga Nirmala, maka wajah ketiga anak Resi Gotama tersebut berubah menjadi kera. Setelah peristiwa itu, Resi Gotama menyuruh Subali untuk bertapa ke hutan Sonyapringga. Di hutan tersebut Subali melakukan tapa ngalong, yaitu bergelantung di atas dahan pohon seperti perilaku binatang Kalong. Beberapa waktu kemudian, Subali menjelma menjadi kera yang sakti.
Suatu saat ketika Dasamuka sedang terbang melintas tepat di atas Subali, Dasamuka jatuh ke tanah. Dasamuka kagum atas kesaktian Subali, maka kemudian Dasamuka berguru kepada Subali. setelah menjadi murid Subali, Dasamuka diberi aji yang sangat sakti bernama Aji Pancasona. Barang siapa mempunyai aji Pancosona ia tidak dapat mati jika menyentuh tanah.
Ketika Kahyangan diserang oleh Raja Goa Kiskenda yaitu Prabu Mahesasura, Subali diperintahkan oleh dewa untuk menghadapi Mahesasura dengan janji jika berhasil akan diberi seorang Bidadari yang bernama Dewi Tara. Dengan bantuan Sugriwa adiknya, Subali berhasil membunuh Prabu Mahesasura dan Lembusura
Pada saat Subali membunuh musuhnya di dalam goa, Sugriwa yang berada di luar goa mengira bahwa Subali telah gugur bersama musuhnya, maka kemudian Sugriwa segera naik ke Kahyangan dan mengambil Dewi Tara. Dengan kejadian tersebut Subali merasa dikianati oleh adiknya, maka dengan amat marah Sugriwa dihajar oleh Subali. Sugriwa melarikan diri untuk mencari bantuan, hingga ketemu Rama. Dengan bantuan Rama Sugriwa dapat Subali.
herjaka HS
Share:

DURMAGATI

Figur Wayang DURMAGATI

Durmagati dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
DURMAGATI

Durmagati adalah anak Destarastra dan Dewi Gendari, penguasa Kadipaten Gajahoya. Bersama sembilanpuluh sembilan saudara yang lain ia disebut dengan nama para Kurawa. Durmagati tinggal di kasatrian Sobrahblambangan. Walaupun tidak termasuk tokoh utama, Durmagati selalu hadir dalam pasowanan di kraton Hastinapura. Kehadiran tokoh yang satu ini cukup menghibur, karena keluguannya serta kelucuannya. Namun dibalik keluguan dan kelucuan tersebut sesungguhnya Durmagati senantiasa melontarkan kritik kepada petinggi kerajaan yang tidak bertanggungjawab. Termasuk juga yang sering memberikan laporan palsu, merekayasa, menfitnah sampai dengan merencanakan pembunuhan. Herannya, sebagian besar petinggi yang dikritik Durmagati tidak marah, hal tersebut dapat dimaklumi karena cara menyampaikan kritik Durmagati dengan gurauan dan selengekan.
Ketika ada perubahan kepemimpinan di Negara Hastinapura, Duryudana kakaknya naik tahta. Kebiasaan Durmagati dalam melontar kritik semakin berani. Yang menjadi sasaran kritik Durmagati antara lain adalah Patih Sengkuni, Pandita Durna, Adipati Karna, dan juga Duryudana.
Selain mengkritik, tidak ada satu pun hal besar yang dilakukan oleh Durmagati. Ia sangat penakut, tidak berani menghadapi musuh sendirian. Kecuali jika keroyokan.
Dalam perang besar Baratayuda yang melibatkan Negara Hastinapura, Durmagati bersama Jayadrata serta para kurawa yang lain mengeroyok Abimanyu anak Harjuna hingga tewas. Harjuna mengamuk dan menghujankan ribuan anak panah kearah orang-orang yang membunuh Abimanyu. Semua pembunuh Abimanyu tewas, termasuk juga Durmagati.
herjaka HS
Share:

Sarpakenaka

Figur Wayang Sarpakenaka

Tokoh Sarpakenaka dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Sarpakenaka

Sarpakenaka adalah anak ke tiga dari pasangan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, menyusul dua kakaknya yang bernama Rahwana atau Dasamuka dan Kumbokarno. Ia berujud raseksi atau raksasa perempuan. Jika Kakak sulungnya dinamakan Rahwana karena ia lahir dihutan dan berupa gumpalan darah, nama Sarpakenaka diberikan karena ia lahir berujud kuku ular. Kuku artinya kenaka dan sarpa artinya ular. Ia adalah sosok raseksi yang jahat bengis dan kejam. Sifat dan watak yang demikian ini mirip sekali dengan watak Rahwana kakaknya. Sarpakenaka sangat sakti. Senjata andalannya adalah kuku beracun di jari-jari tangannya.
Sarpakenaka diberi kedudukkan yang tinggi oleh kakaknya di Negara Alengka dan tinggal di Gutaka. Ia adalah wanita yang mempunyai dorongan akan kebutuhan seks lebih besar dibanding dengan kebutuhan seks wanita-wanita dan raseksi-raseksi pada umumnya. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan akan seksualitasnya Sarpakenaka mempunyai tiga suami yaitu Kala Nopati, Dusakarana, Kala Dusana, masih ditambah lagi dengan suami simpanannya antara lain Anggisrana dan Kala Marica. Dari sekian suami resmi dan suami simpanan tersebut Sarpakenaka melahirkan satu anak yang diberi nama Dewi Jarini.
Pada waktu Negara Alengka diserbu oleh Rama dan puluhan laksa prajurit kera untuk merebut Dewi Sinta yang diculik Dasamuka, Sarpakenaka dipilih menjadi senopati. Dengan kukunya yang beracun ia berhasil membunuh prajurit kera dalam jumlah yang besar. Ketika Sarpakenaka semakin membabi buta, Anoman senapati Prabu Rama dari Pancawati menghadangnya. Maka kemudian     pertempuran sengit antara ke dua senapati pun terjadi. Sarpakenaka sulit untuk dikalahkan.
Wibisana, adik Sarpakenaka yang membelot kepada Prabu Rama mendekati Anoman untuk menunjukkan celah kelemahan Sarpakenaka kakaknya. Dikatakan oleh Wibisana bahwa kesaktian Sarpakenaka berada di kukunya. Maka untuk mengalahkan Sarpakenaka, jari-jari kukunya harus dipatahkan terlebih dahulu. Dengan segera Anoman melaksanakan apa yang dikatakan Wibisana. Kukusakti pada jarinya yang selama pertempuran selalu dihindari Anoman, kali ini justru menjadi sasaran serangan. Gerakan Anoman yang sangat cepat dan tak terduga arahnya mampu mengecoh Sarpakenaka. Akibatnya kukusakti Sarpakenaka dapat dipatahkan, dan gugurlah Sarpakenaka di Medan laga.
herjaka HS
Share:

Sugriwa

Figur Wayang Sugriwa

Sugriwa, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Sugriwa

Sugriwa adalah anak dari pasangan Resi Gotama dan Dewi Indradi. Seperti juga yang dialami oleh Subali kakaknya, Sugriwa sebelumnya berwajah tampan dengan nama Guwarsi. Ia berubah menjadi seekor kera ketika berebut Cupu Manik Astagina dengan kakaknya di Telaga Sumala. Perubahan wujud dari satria tampan menjadi seekor kera terjadi saat Sugriwa dan kakaknya masuk di air telaga.
Di dalam kedalaman air telaga Sumala, Sugriwa tidak menemukan benda yang diperebutkan, yang ditemukan adalah seekor kera besar, sebesar dirinya. Sugriwa segera menyerang kera tersebut, karena mengira bahwa kera itu telah     mengambil Cupu Manik Astagina. Demikian pula sebaliknya, Subali pun mempunyai anggapan bahwa kera yang menyerang dirinya itu telah mengambil Cupu Manik Astagina. Oleh karenanya Subali pun membalas serangan Sugriwa. Maka kemudian diantara kakak beradik tersebut terlibat dalam peperangan yang seru. Beberapa waktu kemudian mereka baru menyadari bahwasanya mereka adalah kakak beradik, Guwarsa dan Guwarsi yang telah berubah menjadi kera.
Setelah peristiwa itu nama Guwarsa Guwarsi seakan tenggelam berserta ketampanannya. Mereka lebih dikenal dengan nama Subali dan Sugriwa. Oleh Resi Gotama Sugriwa dan juga Subali disarankan untuk bertapa di hutan Sonyapringa yang berada di gunung Argasonya. Di wilayah itulah Sugriwa melakukan tapa untuk memohon agar dirinya dikembalikan ke dalam bentuk semula. Namun bertahun-tahun sudah Sugriwa melakukan tapa, apa yang diharapkan tidak pernah terwujud.
Oleh karena tingkah lakunya yang saling berebut saling menggigit dan saling mencakar antara sesama saudara kandung, untuk memiliki sebuah benda yang bukan haknya, Sugriwa lebih sesuai berwujud sebagai seekor kera. Karena sesungguhnya wujud kera adalah wujud kegagalan. Kegagalan untuk mempertahankan jati dirinya sebagai seorang kesatria.
Walaupun Sugriwa tetap berujud kera, ia adalah kera yang sakti mandraguna. Kesaktian itu didapat pada waktu ia melakukan tapa. Oleh karena kesaktiannya, Sugriwa dipercaya oleh Dewa untuk membantu Subali dalam menghadapi musuh Kahyangan yaitu Mahesasura, Lembusura dan Jatasura dari kerajaan Goa Kiskenda.
Pilihan Dewa memang tepat, Subali dan Sugriwa dapat memporakporandakan prajurit Goa Kiskenda. Patih Jatasura tewas di medan laga. Prabu Lembusura dan Mahesasura melarikan diri masuk ke goa Kiskenda. Dalam pengejaran, Subali menyarankan agar Sugriwa tidak usah ikut masuk ke goa. Sugriwa diperintahkan oleh Subali untuk berjaga-jaga di depan pintu goa. Jika nanti darah yang mengalir ke pintu goa itu warnanya merah, itu adalah darah musuh, artinya aku menang. Tetapi jika darah yang mengalir di pintu goa berwarna putih, itu adalah darahku, artinya bahwa aku mati dalam peperangan. Jika hal itu terjadi, engkau segera menutup pintu goa supaya musuh ikut terkubur di dalam goa, demikian pesan Subali kepada Sugriwa, sesaat sebelum ia memasuki goa.
Dengan rasa cemas dan khawatir Sugriwa menunggu di mulut goa, dengan tidak melepaskan pandangannya pada sungai kecil yang mengalir keluar goa. Setelah beberapa lama Sugriwa menunggu, ia dikejutkan oleh mengalirnya darah yang berwarna merah bercampur dengan darah yang berwarna putih. Dengan cepat Sugriwa mengambil kesimpulan, bahwa Subali kakaknya telah mati bersama dengan salah satu musuhnya, Lembusura atau Mahesasura. Maka segeralah ia menutup pintu goa agar musuh yang masih hidup mati terkubur bersama.
Selesai menutup Goa, Sugriwa segerah menuju kahyangan. Dengan sedih ia melaporkan bahwa Subali telah mati bersama musuh. Para dewa mempercayai laporan Sugriwa, dan memutuskan bahwa Sugriwa berhak menerima hadiah para dewa sesuai dengan yang dijanjikan kepada Subali, yaitu seorang bidadari yang bernama Dewi Tara dan negara Goa Kiskenda.
Belum beberapa lama Sugriwa memboyong Dewi Tara ke negara Goa Kiskenda, Subali datang menyeret Sugriwa dan menghajarnya. Subali merasa dikhianati oleh adiknya. Sugriwa membela diri, bahwa dirinya tidak berniat mencelakai kakaknya. Dengan dasar mengalirnya darah putih Sugriwa beranggapan bahwa Kakaknya dan musuhnya mati bersama.
�Goblok!! itu bukan darah putih, itu otak Mahesaura dan otak Lembusura yang aku adu kepalanya.� Kemarahan Subali mencapai puncak, ia tidak ingin mendengar pembelaan Sugriwa lagi. Hatinya amat panas dipanggang oleh api cemburu, karena Sugriwa telah memperistri Dewi Tara yang selama ini menjadi impian Subali. Dengan hati yang membara kebencian, Subali menyiksa Sugriwa dengan meyepitkannya di dahan pohon nan tinggi.
Subali, kakak beradik itu, yang lahir dari satu ayah dan satu ibu, lebih memilih menjadi seekor kera dari pada seorang kesatria. Subali yang adalah seorang Resi dan Sugriwa yang adalah seorang raja, rupanya belumlah dapat membuang watak kera di dalam pribadinya. Subali akhirnya tertembus pusaka Guwawijaya milik Rama, sampai pada tarikan nafas terakhir, Subali masih menampakkan sosok kera yang utuh. Demikian pula Sugriwa yang mati dalam usia tua, belum berubah menjadi sosok kesatria tampan yang bernama Guwarsi.
herjaka HS
Share:

Batara Endra

Figur Wayang Batara Endra

Batara Endra dalam rupa wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Batara Endra

Menurut kitab Mahabarata tulisan Wiyasa, Batara Endra merupakan pemuka Dewa yang bertempat tinggal di Kahyangan Indraloka atau Indrabawana dan disebut juga Kahyangan Kaendran. Batara Endra adalah anak dari pasangan Maharesi Kaspaya dan Dewi Aditi. Selain Batara Endra, pasangan Maharesi Kaspaya melahirkan sebelas anak yang lain yaitu : Batara Ariyaman, Batari Datri, Batara Mitra, Batara Angsa, Batara Baruna, Batara Wagu, Batara Surya, Batara Pusa, Batari Sawitri, Batari Twastri, dan Batara Wisnu.
Sedangkan di dalam kitab Pedalangan, Batara Endra adalah adik Batara Brama, anak Dewi Uma dan Batara Guru, penguasa para Dewa di Kahyangan Jonggringsaloka. Batara Endra diberi tugas oleh Batara Guru untuk memimpin para Dewa dan melindungi para Bidadari di Kahyangan, dan memberikan hadiah bagi siapa saja yang gemar bertapa, membantu ketentraman dunia serta telah berjasa kepada para dewa
Pada waktu Kahyangan diserang Prabu Mahesasura dan Lembusura raja Goa Kiskenda, Batara Endra meminta Subali dan Sugriwa menghadapinya. Setelah kedua kera bersaudara tersebut berhasil membunuh Mahesasura dan Lembusura, Batara Endra menghadiahkan anaknya sendiri yang bernama Dewi Tara, kepada Subali dan Sugriwa.
Selain menghadiahkan kepada Subali dan Sugriwa, Batara Endra juga menghadiahkan putrinya yang lain yang bernama Dewi Supraba kepada Arjuna karena jasanya dapat mengalahkan musuh para dewa yaitu Prabu Niwatakawaca raja Imaimantaka. Sebelum menghadiahkan Dewi Supraba, Batara Endra juga memberikan panah Pasopati kepada Arjuna guna menghadapi Prabu Niwatakawaca yang tidak terkalahkan oleh para dewa.
Batara Endra mempunyai kendaraan berupa seekor gajah, namanya Erawata. Ia bertempat tinggal di Kahyangan Tinjomaya bersama Dewi Wiyati istrinya, serta anak-anaknya yaitu: Dewi Tara, Dewi Tari, Dewi Supraba, Batara Citrarata, Batara Citragada, Batara Citrasena, dan Batara Jayantara. Selain anak-anak yang lahir dari Dewi Wiyati, sesungguhnya Batara Endra mempunyai satu anak dengan Dewi Kunthi yaitu Arjuna.
Pernah pada suatu kali Batara Endra melakukan kesalahan fatal, sehingga membuat Batara Guru murka dan mengutuk Batara Endra menjadi raksasa bernama Rukmaka. Ia baru berubah wujud aslinya sebagai dewa setelah berperang melawan Bima dalam lakon Dewaruci
Batara Endra disebut pula sebagai dewa petir dan halilintar. Ia mempunyai senjata bajra berupa tonngkat petir.
Nama-nama Batara Endra yang lain adalah: Prabu Sakra karena pernah menjadi raja di Medanggana, Swargapati yang artinya raja surga, Diwapati, dan Meghawahana
herjaka HS
Share:

Drupada

Figur Wayang Drupada

Wayang Kulit Prabu Durpada,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Drupada

Sucitra adalah seorang remaja dari Atasangin, yang oleh Prabu Baratwaja raja Hargajembangan diangkat anak dan disaudarakan dengan anaknya yang bernama Kumbayana. Selain dijadikan anaknya, kedua remaja tersebut di ajari ilmu yang sama. Sucitra dan Kumbayana tumbuh bersama dan menjadi pemuda yang berilmu tinggi.
Pada suatu pagi yang cerah Sucitra meninggalkan bumi Atasangin dan Negara Hargajembangan karena di utus oleh Prabu Baratwaja untuk mengembalikan keris pusaka kepunyaan Begawan Abiyasa di tanah Jawa. Sesampainya di tanah Jawa tepatnya di negara Pancalaradya, Sucitra bertemu dengan Pandudewanata anak Begawan Abiyasa. Pandu menyarankan, sebelum keris pusaka dikembalikan kepada ramanda Abiyasa, Sucitra dapat menggunakan keris tersebut untuk mengikuti sayembara yang diadakan oleh Prabu Gandabayu raja Pancalaradya.
Atas bantuan Pandudewanata, Sucitra berhasil memenangkan sayembara dengan mengalahkan Gandamana. Atas keberhasilannya, Sucitra dikawinkan dengan putri kedaton yang bernama Gandawati. Beberapa tahun kemudian Sucitra menggantikan Prabu Gandabayu menjadi raja di Pancalaradya dengan nama Prabu Durpada. Pada awal pemerintahannya, Prabu Durpada diembani oleh patih Gandamana, adik iparnya.
Setelah menjadi raja di Pancalaradya yang sebelumnya termasuk wilayah negara Ekacakra, Prabu Durpada tidak pernah lagi kembali ke bumi Atasangin di Negara Hargajembangan. Ia juga tidak ingat lagi dengan Kumbayana sahabatnya yang juga suadara tuanya diwaktu remaja. Oleh karenanya ketika Kumbayana datang di bangsal raja, dan memanggil-manggil dirinya dengan nama kecilnya �Sucitra! Sucitra! Sucitra! Prabu Durpada tidak lagi mengenalnya. Bahkan ia menyuruh Gandamana mengusir orang asing yang berlaku tidak sopan pada raja.
Demi keselamatan raja, Gandamana menyeret Kumbayana dan menghajarnya, hingga menderita cacat seumur hidup. Sejak peristiwa itu Kumbayana yang kemudian lebih dikenal dengan nama Durna menyimpan dendam yang membara. Diantara dua sahabat lama itu untuk selanjut saling balas-membalas melampiaskan dendamnya.
Dengan Dewi Gandawati, Prabu Durpada mempunyai tiga anak yaitu Durpadi, Srikandi dan Drestajumena
herjaka HS
Share:

Dasamuka

Figur Wayang Dasamuka

Prabu Dasamuka, sebelah tangannya cacat tidak bisa digerakkan
karena terjepit pintu Selamanangkep, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dasamuka

Dasamuka artinya mempunyai muka sepuluh, nama lain dari Dasamuka adalah Rahwana, yang berarti darah di hutan karena Rahwana dilahirkan di hutan. Ibunya bernama Dewi Sukesi dari Alengka. Dasamuka kemudian menjadi raja di Alengka. Ia adalah seorang raja yang mahasakti, memiliki aji Pancasona. Ajian ini mempunyai daya hidup ketika menyentuh tanah. Walaupun sudah mati jika menyentuh tanah akan hidup kembali. Dasamuka adalah raja besar yang memiliki watak angkara murka, sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Dasamuka mempunyai isteri bidadari kahyangan bernama Dewi Tari. Dengan Dewi Tari Dasamuka mempunyai beberapa anak yaitu: Indrajit, Dewantaka, Tri Sirah, Tri Netra, Tri Jangga, Tri Kaya, Bukbis, Pratalamaryam.
Walaupun sudah beristeri seorang Bidadari kahyangan, Dasamuka mempunyai keingingan yang sangat kuat untuk memperisteri bidadari kahyangan yang lainnya yaitu Dewi Sri Widowati. Karena ada anggapan jika dapat memperisteri Dewi Sri Widowati hidupnya akan tentram dan sejahtera. Oleh karenanya sepanjang hidupnya Dasamuka selalu berusaha untuk mendapatkan     seorang wanita yang merupakan titisan Dewi Sri Widowati.
Namun niat tersebut selalu gagal. Kegagalan demi kegagalan tidaklah menyurutkan niatnya untuk memiliki Dewi Sri Widowati. Bahkan nafsu untuk mengejar titisan Dewi Sri Widowati semakin besar. Pernah suatu ketika Dasamuka naik ke kahyangan untuk mencuri Dewi Sri Widawati. Namun ketika ia akan masuk di pintu Selamanangkep pintu itu menutup dengan sendirinya. Dasamuka terkejut satu tangannya terjepit pintu dan menjadi cacat seumur hidup.
Pada suatu ketika diketahui bahwa Dewi Sri Widowati menitis di dalam pribadi Dewi Sinta isteri Rama, Dasamuka berusaha untuk merebutnya. Maka diculiklah Dewi Sinta ketika di tinggal sendirian di hutan Dandaka. Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta dan diboyong ke Negara Alengka, namun tidak berhasil memiliki Dewi Sinta, dikarenakan Dewi Sinta setia kepada Rama, lebih baik mati dari pada diperisteri Dasamuka. Dasamuka kehabisan akal, sampai pada waktu Rama dan balatentaranya menemukan tempat Dewi Sinta disekap, Dasamuka belum berhasil memperisteri Dewi Sinta.
Dasamuka mempunyai anggapan jika Rama berhasil dibunuh, tentunya Dewi Sinta mau menjadi isterinya. Maka kemudian Dasamuka bersama para prajuritnya menyerbu Rama dan bala tentaranya yang sedang membuat perkemahan di Swelagiri. Perang besar pun terjadi, demi seorang wanita titisan Dewi Sri Widowati. Perang besar tersebut dinamakan perang Giriantara.
Dasamuka maju ke medan perang, mencari Rama. Setelah kedua raja bertemu, terjadilah peramg tanding. Dasamuka beberapa kali mati terkena senjata Rama bernama panah Guwawijaya, namun berulang kali hidup kembali ketika menyentuh bumi. Melihat hal itu, Anoman yang menjadi senopati Rama menindih raga Dasamuka dengan gunung supaya tidak dapat bangun kembali.
Herjaka HS
Share:

Arsip Blog